Ja`far Umar Thalib, apa kabar antum?
Ditulis oleh Admin di/pada Oktober 17, 2007
Pak Ja`far Umar Thalib, apa kabar? Semoga Allah subhanahu wata`ala masih merahmati antum. Semoga tetap menuntun antum untuk menetapi jalan yang lurus yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kita memang belum pernah berjumpa. Ana juga belum pernah menghadiri kajian antum. Ana cuma mendengar dari ustadz di kampung di Purwokerto maupun teman-teman ana ngaji tentang dakwah antum. Itu dulu tahun 1995 an. Ana begitu kagum dengan kegigihan antum mendakwahkan sunnah. Teman-teman di Purwokerto menokohkan antum. Begitulah.
Hari ini, 12 tahun setelah tahun 1995, ana menjadi kangen ingin tahu kabar antum. Ana memang masih terseok-seok di akar rumput salaf. Cuma masih tersisa tekad, terus berusaha menjadi salaf sejati. Sampai hari ini masih berusaha. Belum bisa untuk menjadi ustadz seperti teman-teman ana yang sudah lulus dari ma`had. Bahkan bahasa yang ana pelajari justru bahasa Jepang.
Dulu ana mengidolakan antum, apalagi saat antum begitu gigih berperang di Ambon. Itu dulu. Yaah itu dulu. Sekarang saat ana kangen, bagaimana kabar antum?
Teman-teman ana yang dulu jual majalah Salafy, sekarang sedianya majalah As Sunnah. Mereka bilang majalah ini lebih bagus. Ana tidak tahu kenapa. Dan ana memang beli As sunnah semenjak itu. Tidak pernah lagi beli majalah Salafy. Sehingga tidak pernah tahu tulisan-tulisan yang antum buat. Waktunya begitu lama sehingga ana tidak tahu perkembangan antum. Kajian yang ana ikuti tidak ada yang bahas masalah hizbiyah. Ditambah ana lagi banting tulang karena tingginya biaya hidup semenjak krisis moneter. yah, ana termasuk yang terseok-seok dalam menetapi slogan ana “Terus berusaha menjadi Salaf sejati”.
Ini adalah 12 tahun setelah tahun 1995, dimana waktu itu ana mulai mengenal nama antum yang begitu sering disebut-sebut dalam forum kajian di kampung. Ini adalah 12 tahun, dimana timbul rasa kangen, karena sepertinya ana kehilangan antum. Orang yang begitu ana idolakan, kagumi, dan berharap suatu saat bisa menuntut ilmu langsung dari antum.
Sepertinya ana semakin jauh dari antum. Ataukah antum yang semakin jauh meninggalkan ana? Itulah mengapa ana jadi kangen padahal kita belum pernah berjumpa. Apakah antum telah mengambil jalan yang berbeda sehingga kita tidak mungkin bersama dalam satu jalan? Seberapa pun cepatnya ana berlari, tidak akan pernah bisa mengejar antum kalaulah memang jalan antum berbeda. Bahkan semakin jauh dan semakin jauh.
Semua teman-teman yang dulu menceritakan antum, sekarang meninggalkan antum. Bahkan murid antum yaitu ust. Afifudin begitu bersemangat memberikan nasihat kepada antum. Agar antum kembali kepada jalan yang pernah antum jalani, dan antum rintis di Indonesia.
Ana sedih sekali …. sungguh, karena sepertinya tidak mungkin kita dalam satu jalan. Semoga Allah subhanahu wata`ala mensudahi ujian antum. lulus atau tidak, semoga Allah mengembalikan antum kepada jalan salaf yang lurus.
Ana tetap berpegang pada slogan “Terus berusaha menjadi salaf sejati” walaupun dengan terseok-seok. Meskipun ana harus kehilangan panutan, tokoh, idola, ustadz, tetap ana berusaha menjadi salaf sejati. Ana harus rela mengenang antum. Bahwa dulu pernah ada god fathernya salaf di Indonesia. Jawaranya dakwah salaf di Indonesia. Yang mana semua gerakan ikhwani dan sururi di Indonesia takut kepadanya. Bahkan dihormati dan disegani oleh kalangan syaikh di timur tengah.
Apakah harus berakhir seperti di atas? Tidak. Ana tidak ingin seperti itu. Itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan buat ana, bahwa ana harus kehilangan orang yang begitu ana idolakan.

Abu Haniifah berkata
Dalam majalah Salafy edisi 5 tahun 5 , Dalam artikel yang berjudul , “Saya Merindukan Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah” , Ustadz Ja’far Umar Tholib menulis :
“…Saya lupa dengan keadaan yang sesungguhnya mayoritas ummat di Indonesia yang tingkat pemahamannya amat rendah tentang Islam. Saya saat itu menganggap tingkat pemahaman ummatku sama dengan tingkat pemahaman murid-muridku. Akibatnya ketika saya menyikapi penyelewengan ummat dari As-Sunnah, saya anggap sama dengan penyelewengan orang-orang yang ada di sekitarku yang selalu saya ajari ilmu. Tentu anggapan ini adalah anggapan yang dhalim. Dengan anggapan inilah akhirnya saya ajarkan sikap keras dan tegas terhadap ummat yang menyimpang dari As-Sunnah walaupun mereka belum mendapat penyampaian ilmu Sunnah. Sayapun sempat menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bid’ah dan harus disikapi sebagai Ahlul Bid’ah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan apa yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama’ tersebut di atas tentang sikap Ahlul Bid’ah. Saya sangka Ahlul Bid’ah itu ialah semua orang yang menjalankan bid’ah secara mutlak.”
______________________________________________________
Sukron, cuplikan di atas menambah pengetahuan ana tentang Ja`far Umar Thalib. Sayang sekali ya, dia justru menyatakan seperti itu, bahwa apa yang dia lakukan dulu itu adalah dalam keadaan lupa. Ana sebenarnya tidak rela, ustadz sekaliber dia mengeluarkan statement seperti itu. Padahal ana juga tumbuh dalam bid`ah. Murid2nya dulu juga mungkin banyak yang berasal dari ahlul bid`ah. Mungkinkah murid2nya itu memang sudah salaf dari asalnya?
Ana sedang mencari jalan yang benar, dan beliau telah menunjukkan dalam dakwahnya yang dulu. Dan banyak yang menerima dakwahnya, bahkan mereka sekarang banyak yang menjadi ustadz terkenal. Tentu saja beliau tidak bisa memaksa murid-muridnya maupun teman-teman yang dulu menerima dakwahnya untuk mengikuti keputusan dia. Untuk meninggalkan cara dakwah yang dulu dan mengikuti cara dakwahnya sekarang.
Dan beliau menyandarkan kepada ulama2 timur tengah. Memperkenalkan mereka, bahkan mengirim santri2nya untuk belajar langsung ke tempat masyaikh. Inilah wawasan yang telah ana dapatkan tentang beliau.
Aku telah mulai memahami, bahwa yang dulu dia dakwahkan itu benar dan lurus. Dan aku tidak mungkin berbelok, mengikuti tekad beliau untuk merubah strategi dakwahnya.
Abu Umar Rengga berkata
yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘ala diinik …
Abu Dujana berkata
Buat Ustadz Jafar, saluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut….!
Kita ini bukan hakim yang menentukan surga dan neraka. Kita cuma dai (penyeru). Ane sangat kagum dengan tulisan antum di atas. Salaf versi ‘al banyumasy’ ini ajarannya enak. Gak usah mikirin umat. Kipas anginan di masjid sambil baca buku dan ngaji dirasa cukup. Weleh…weleh… umat yang melarat ikut siapa? Gimana solusi kenaikan BBM? Gimana solusi Lapindo? Apalagi bicara tentang jihad qital palestina atau afghanistan. Ajaran islam itu ndak cukup segitu bro.
Abu Ghoshoqk berkata
aku mau cari istri disini bisa nggak?
suswanto berkata
semoga Alloh memberikan qita keteguhan di manhaj al haq ini.
dibyochemeng berkata
ngomong yang bener akh…..
klo kalian ilmiyah :
http://salafytobat.wordpress.com
kami hadirkan bukti dan fakta, bantahlah dgn ilmiyah
alfaqir berkata
semoga Allah subhanallahu wata ala, selalu membimbing kita. dan mengembalikan mereka-mereka yang menyimpang pada al haq.
abu azzam berkata
ana jd salafy awalnya krn kekaguman ana pd beliau yg dg gagah berani memimpin lasykar jihad,tapi skrg beliau sdh meninggalkan kita
derry berkata
assalamu’alaikum…
afwan sebagai hamba yang doif ana tak mau menghakimi/memfonis
bahwa ustad ja’far,tlah meninggalkan kita.yang ana tahu “alkhaqu mirrobbik…
afwan kebenaran hanya milik ALLOH aja.
sukron jazakALLOHU khoiron katsiron.