Pak Ja`far Umar Thalib, apa kabar? Semoga Allah subhanahu wata`ala masih merahmati antum. Semoga tetap menuntun antum untuk menetapi jalan yang lurus yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kita memang belum pernah berjumpa. Ana juga belum pernah menghadiri kajian antum. Ana cuma mendengar dari ustadz di kampung di Purwokerto maupun teman-teman ana ngaji tentang dakwah antum. Itu dulu tahun 1995 an. Ana begitu kagum dengan kegigihan antum mendakwahkan sunnah. Teman-teman di Purwokerto menokohkan antum. Begitulah.
Hari ini, 12 tahun setelah tahun 1995, ana menjadi kangen ingin tahu kabar antum. Ana memang masih terseok-seok di akar rumput salaf. Cuma masih tersisa tekad, terus berusaha menjadi salaf sejati. Sampai hari ini masih berusaha. Belum bisa untuk menjadi ustadz seperti teman-teman ana yang sudah lulus dari ma`had. Bahkan bahasa yang ana pelajari justru bahasa Jepang.
Dulu ana mengidolakan antum, apalagi saat antum begitu gigih berperang di Ambon. Itu dulu. Yaah itu dulu. Sekarang saat ana kangen, bagaimana kabar antum?
Teman-teman ana yang dulu jual majalah Salafy, sekarang sedianya majalah As Sunnah. Mereka bilang majalah ini lebih bagus. Ana tidak tahu kenapa. Dan ana memang beli As sunnah semenjak itu. Tidak pernah lagi beli majalah Salafy. Sehingga tidak pernah tahu tulisan-tulisan yang antum buat. Waktunya begitu lama sehingga ana tidak tahu perkembangan antum. Kajian yang ana ikuti tidak ada yang bahas masalah hizbiyah. Ditambah ana lagi banting tulang karena tingginya biaya hidup semenjak krisis moneter. yah, ana termasuk yang terseok-seok dalam menetapi slogan ana “Terus berusaha menjadi Salaf sejati”.
Ini adalah 12 tahun setelah tahun 1995, dimana waktu itu ana mulai mengenal nama antum yang begitu sering disebut-sebut dalam forum kajian di kampung. Ini adalah 12 tahun, dimana timbul rasa kangen, karena sepertinya ana kehilangan antum. Orang yang begitu ana idolakan, kagumi, dan berharap suatu saat bisa menuntut ilmu langsung dari antum.
Sepertinya ana semakin jauh dari antum. Ataukah antum yang semakin jauh meninggalkan ana? Itulah mengapa ana jadi kangen padahal kita belum pernah berjumpa. Apakah antum telah mengambil jalan yang berbeda sehingga kita tidak mungkin bersama dalam satu jalan? Seberapa pun cepatnya ana berlari, tidak akan pernah bisa mengejar antum kalaulah memang jalan antum berbeda. Bahkan semakin jauh dan semakin jauh.
Semua teman-teman yang dulu menceritakan antum, sekarang meninggalkan antum. Bahkan murid antum yaitu ust. Afifudin begitu bersemangat memberikan nasihat kepada antum. Agar antum kembali kepada jalan yang pernah antum jalani, dan antum rintis di Indonesia.
Ana sedih sekali …. sungguh, karena sepertinya tidak mungkin kita dalam satu jalan. Semoga Allah subhanahu wata`ala mensudahi ujian antum. lulus atau tidak, semoga Allah mengembalikan antum kepada jalan salaf yang lurus.
Ana tetap berpegang pada slogan “Terus berusaha menjadi salaf sejati” walaupun dengan terseok-seok. Meskipun ana harus kehilangan panutan, tokoh, idola, ustadz, tetap ana berusaha menjadi salaf sejati. Ana harus rela mengenang antum. Bahwa dulu pernah ada god fathernya salaf di Indonesia. Jawaranya dakwah salaf di Indonesia. Yang mana semua gerakan ikhwani dan sururi di Indonesia takut kepadanya. Bahkan dihormati dan disegani oleh kalangan syaikh di timur tengah.
Apakah harus berakhir seperti di atas? Tidak. Ana tidak ingin seperti itu. Itu akan menjadi kenyataan yang sangat menyakitkan buat ana, bahwa ana harus kehilangan orang yang begitu ana idolakan.
